Sabtu, 12 November 2016

“MEMBUMIKAN IKATAN MENUJU PERGERAKAN YANG BERKEPRIBADIAN” MASTA IMM UNS



“Membumikan Ikatan Menuju Pergerakan Yang Berkepribadian” merupakan tema yang diusung oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ( IMM ) Ki Bagus Hadikusumo UNS dalam acara Masta Ta’aruf ( MASTA ) pada Ahad, 18 September 2016 di Balai Muhammadiyah Kota Surakarta. Masta merupakan kegiatan yang dilaksanakan guna mengenalkan Organisasi Muhammadiyah dan ortom-ortomnya, khususnya IMM kepada kader – kader baru yang memiliki ketertarikan dengan IMM di Universitas Sebelas Maret. Sehingga diharapkan kader dapat lebih memahami hubungan antara Islam dan Muhammadiyah serta pergerakan mahasiswa dan IMM. Selain itu, selaras dengan tema yang diangkat, diharapkan IMM Ki Bagus Hadikusumo dapat lebih dekat dengan kadernya sehingga dapat terjalin sinergisitas antara pimpinan dan kader guna menuju pegerakan mahasiswa yang memiliki kepribadian layaknya Muhammadiyah.
Masta periode 2016 ini dihadiri oleh 14 peserta yang berasal dari beberapa fakultas di UNS diantaranya adalah fakultas MIPA, Kedokteran, Sastra dan Ilmu Budaya, Hukum, FISIP, FKIP, dan Teknik. Masta kali ini juga menyuguhkan tiga materi utama yaitu “Islam dan Muhammadiyah”, “Kemahasiswaan” dan Ke-IMM-an.
Materi Islam dan Muhammadiyah disampaikan oleh Immawan Yedi Mulya Permana, Ketua Umum DPD IMM Jawa Tengah. Diawal materinya beliau mengajak para kader untuk saling mengenal satu sama lain. Pada kesempatan itu pula, Ketua Umum DPD IMM Jawa Tengah tersebut menyampaikan bahwa agama Islam merupakan rahmat bagi semesta alam, sehingga dalam pergerakannya, Muhammadiyah lebih fokus kepada dakwah yang sifatnya muamalah. Hal ini dimaksudkan untuk ikut membantu menyejahterakan masyarakat Indonesia. Bukan untuk memecah belah negeri ini yang masyarakatnya memang sudah majemuk.
Sedangkan, materi Ke-Mahasiswa-an dan Ke-IMM-an dipaparkan oleh beberapa perwakilan pimpinan cabang IMM kota Surakarta yang baru dilantik. Materi diawali dengan penyampaian materi Kemahasiswaan. Setelah itu, dilakukan pembagian kelompok-kelompok kecil dengan satu orang pendamping dari Pimpinan Cabang. Pada kelompok – kelompok ini kader diajak berinteraksi dan diskusi seputar IMM guna melatih komunikasi dan menjalin keakraban antara Pimpinan Cabang IMM kota Surakarta dengan kader IMM Ki Bagus Hadikusumo UNS. (Immawati Arin DR)


 

Selasa, 03 Mei 2016

MENGGELAR KANVAS MELUKIS WARNA, Apa Itu?

Menggelar Kanvas Melukis Warna bukanlah kegiatan atau acara melukis bersama untuk memperingati suatu peristiwa. Memang secara umum dapat dimengerti sebagai suatu event, akan tetapi Menggelar Kanvas Melukis Warna adalah judul besar dari buku yang diterbitkan PK IMM Ki Bagus Hadikusumo bekerjasama dengan Penerbit Oase Pustaka. Menggelar Kanvas Melukis memiliki judul lengkap yang cukup panjang, yaitu,

“MENGGELAR KANVAS MELUKIS WARNA : Peran dan Gagasan Pemikiran Kader IMM Ki Bagus Hadikusumo UNS Solo Menuju Langkah Seabad Ikatan”




Pemberian judul besar itu bukan tidak memiliki arti, Menggelar Kanvas Melukis Warna dapat diartikan sebagai upaya mencipta sejarah dengan tinta berbagai warna. yang nantinya bisa dikenang dan tentunya memiliki arti tersendiri, tidak hanya bagi kader IMM Ki Bagus Hadikusumo melainkan untuk kader IMM secara umum. Tinta dengan berbagai warna di sini bukanlah tinta sungguhan, melainkan warna atau bisa diartikulasikan sebagai gaya pergerakan dan pemikiran yang dibawa oleh setiap kader pada masanya. Di dalam buku inilah pembaca dapat melihat sekelumit ciri khas dari tinta tinta yang ditorehkan oleh para kader IMM Ki Bagus Hadikusumo dari periode awal, yaitu periode 2000/2001, hingga periode 2013/2014.

Buku Menggelar Kanvas Melukis Warna adalah kumpulan artikel dari para kader IMM Komisariat Ki Bagus Hadikusumo yang telah menjadi alumni. Mereka menginginkan IMM kembali pada ruh-nya yang termaktub dalam Tri Kompetensi Dasar, Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas. Ide pengumpulan artikel dari para alumni ini bermula pada bulan bulan menjelang diselenggarakan Muktamar XVI di Universitas Muhammadiyah Surakarta akhir Mei 2014 silam. Buku ini dirancang oleh Tim Penyusun yang juga merupakan Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan periode 2013/2014, waktu itu di gawangi oleh Immawati Nurul Hidayati, selaku Kepala Bidang, dan Immawati Nida’ulUrwatul Wutsqa, selaku Sekretaris Bidang.. Keduanya sekarang merupakan alumni dan mahasiswa semester akhir Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Pada saat menjalankan usaha penerbitan buku itu Tim Penyusun dibantu beberapa alumni yang aktif dalam dinamikan pergerakan mahasiswa di lingkungan Kampus UNS serta aktif di organisasi otonom Muhammadiyah lainnya. Mereka adalah Immawan M. Aziz Proklamalatu, Immawan Aminuddin Abdul Jabbar, dan Immawan Yogie S. Prabowo

Pada awalnya buku  ini direncakan akan terbit di tahun 2014 itu juga. Karena beberapa kendala dan perdebatan yang cukup memakan waktu  serta naskah buku nyaris hilang membuat recana itu mundur begitu lama. Pada akhirnya dengan berucap syukur Alhamdulillah buku ini bisa terbit di awal tahun 2016. Adapun konten dari buku ini terbagi dalam tiga pembahasan, yaitu, Organisasi dan Perkaderan, Gerakan Mahasiswa dan Politik, serta Sosial Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat.  Buku Menggelar Kanvas Melukis Warna ini diberi pengantar oleh salah satu cucu dari Ki Bagus Hadikusumo yang sekaligus seorang senator DPD RI wakil dari DI. Yogyakarta periode 2009/2014 dan 2014/2019, beliau adalah M. Afnan Hadikusumo. Juga diberi sambutan oleh Ketua DPD IMM Jawa Tengah periode 2015/2017, Immawan Yedi Mulya Permana, dan Sekapur Sirih oleh Ketua Umum PK IMM Ki Bagus Hadikusumo periode 2013/2014 sekaligus Anggota Bidang Kader PP IPM Periode 2015/2017, Immawati Arifah Cahyo Andini S.

Artikel yang terdapat dalam buku ini antara lain

Bagian 1. Organisasi dan Perkaderan

1.     Dialog Imaginer Dengan Ki Bagus Hadikusumo
Oleh : Suedy
2.      Ber-IMM, Investasi Dunia Akhirat
3.      Merangkai Zaman
4.      Tantangan IMM Pada Era Globalisasi
5.      Menuju Kebebasan Berfikir, Sebuah Refleksi Bersama
6.      IMM : Kader, Dakwah, Dan Kelanjutan Masa Depan Muhammadiyah
7.      Peran Strategis Kader IMM Dalam Mekanisme Transformasi Kader Muhammadiyah
8.      Organisasi Dan Kaderisasi
9.      Organisasi Dan Perkaderan

Bagian 2. Gerakan Mahasiswa Dan Politik Kampus

1.      Menemukan Kembali Gerakan Kita (Dari Komisariat Untuk Peradaban)
2.      Mendambakan Independensi Dan Kemandirian Gerakan Mahasiswa
3.      Dinamisasi Gerakan Mahasiswa Kampus Hijau
Bagian 3. Sosial Ekonomi Dan Pemberdayaan Masyarakat

1.  Pengembangan Masyarakat Binaan Melalui Usaha Pemberdayaan : Kontribusi Nyata Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Berbasis Keilmuan
Oleh : Lailatusysyukriyah
2.      Perluasan Penampang Pribadi Menuju Masyarakat Madani

Buku yang kami hadirkan ini adalah buku pertama kami yang sesungguhnya adalah edisi milad Setengah Abad. Selanjutnya kami berencana menghadirkan buku kedua dengan edisi yang berbeda. Insyaa Allah.

Semoga buku ini menginspirasi para kader IMM dimanapun berada untuk terus berkarya dan terus berfastabiqul khairot.

Bila mungkin ada yang tertarik dengan buku ini bisa hubungi melalui akun Facebook Immawan Yopi Adi Firmanda atau Nurul Hidayati untuk mendapatkannya, atau melalui Facebook kami di https://www.facebook.com/immuns.

Jumat, 02 Januari 2015

TETESAN TINTA KADER IKATAN ; ½ Abad IMM : Mengenal Diri Mengenal IMM



 oleh : Immawati Okki Tjandra


Sebut saja IMM (Bukan nama Samaran)
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) kini telah memasuki usia emasnya yakni 50 tahun atau sudah setengah abad. Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, IMM menyatakan dengan jelas akan identitas di namanya tanpa menyamarkan sebutan dengan istilah yang dimaksudkan agar menjangkau semua kalangan. IMM memutuskan menebarkan kebermanfaatan dan nilai-nilai yang  telah diakui dan berlaku universal untuk semua kalangan tanpa harus menyamarkan nama Muhamamdiyah di identitasnya agar bisa diterima semua. Hal ini sangatlah menarik karena konsep universal tanpa menyamarkan identitas pribadi merupakan konsep berani, jelas, dan integritas. Ditengah semakin memudarnya identitas moral bangsa ini, kita dapat belajar dari penamaan IMM. Untuk dapat diterima semua kalangan, kita tidak perlu menyamarkan identitas diri kita. Kita tak perlu takut dipandang sebagai kelompok-kelompok tertentu, kita tak usah takut akan pandangan mereka yang memandang bahwa kita bukan bagian dari mereka. Yang perlu kita tampilkan adalah dengan percaya diri siapa kita dan kita mantapkan pula peran atas konsekuensi atas identitas kita. Sehingga sangat penting mengenal siapa diri kita sesungguhnya.

R.I.H. merupakan paket komplit
IMM mempunyai tri kompetensi dasar yang diupayakan untuk dimiliki oleh setiap kader IMM. Tri kompetensi dasar yang dimaksud Religiusitas, Intelektualitas dan Humanitas (R.I.H) yang juga menjadi ranah arah  gerakan IMM. Keagamaan, intelektual dan sosial semuanya menjadi ranah yang terus digali dan dikembangkan oleh masing-masing kader di IMM. Tiga bidang tersebut merupakan bidang esensial dalam pembahasan ranah gerakan. Pada umumnya organisasi mahasiswa hanya fokus bergerak dalam satu bidang saja. IMM mencoba memformulasikan dan mengembangkan 3 hal tersebut agar kader IMM tidak terjebak dalam satu kacamata saja dalam memandang sesuatu. Meski pun tidak dipungkiri ada kecondongan dalam bidang tertentu namun setidaknya kader IMM dapat menggali dan belajar serta memperbaiki kualitas diri dengan adanya tri kompetensi dasar agar dapat mengambil keputusan yang bijak.

Kader IMM ngga akan end
                Menjadi anggota atau pengurus IMM mungkin hanya beberapa tahun saja. Namun keanggotaan IMM tidaklah seperti keanggotaan organisasi pada umumnya yang berawal dan berakhir pada ritual rutinitas yang disebut pelantikan. Rantai kepengurusan IMM kalau boleh disebut itu unik dan indah. Rantai yang dibentuk itu bagaikan pohon keluarga. Karena setelah usai kepengurusan sekitar  2-3 tahun kader IMM setelah menjabat itu secara otomatis masuk dalam Jaringan alumni. IMM UNS sendiri memiliki jaringan alumni yang disebut JAIMM (jaringan alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dimana mahasiwa-mahasiswa yang dulunya pendiri IMM UNS yang bernama resmi PK IMM Ki Bagus Hadikusumo sampai pengurus yang berakhir kepengungurusannya setahun lalu terbingkai dalam JAIMM UNS yang selalu men-suport adik-adiknya yang duduk di pimpinan IMM. Sehingga value yang kita jelaskan disini adalah IMM bukan kumpulan mahasiwa yang berkumpul untuk mengejar proker-proker agar LPJ-nya diakatakan berhasil, namun IMM adalah keluarga yang diusahakan sebisa mungkin tidak akan terputus.

                IMM UNS di IMM setengah Abad
IMM UNS itu…sebuah keluarga besar yang terdiri dari mahasiswa UNS dari 9 fakultas yang berbeda (FK,FISIP,FKIP,FEB,FSSR,FMIPA,FH,FP dan FT). Dimana terdiri dari latar belakang, asal daerah, serta karakter masing-masing yang berbeda pula. Namun keluarga ini mempunyai keinginan yang sama untuk bergerak dan memperdalam ilmu dan praktek dalam hal religiusitas, intelektualitas dan humanitas yang merupakan secuil value diakui universal dari identitas asal akan  jati diri. Itulah IMM UNS, di tengah usia IMM yang setengah abad  sebagai Organisasi Pergerakan Mahasiswa berusaha tetap mempertahankan value akan identitasnya.**(oca)

Selasa, 19 Agustus 2014

INTELEKTUAL PROFETIK DAN MUSLIM NEGARAWAN

artikel ini merupakan tulisan dari salah satu kader PK IMM Ki Bagus Hadikusumo UNS Solo yang pernah dimuat di surat kabar harian Solopos pada tanggal 15 April 2014.
Beberapa hari lalu saat hendak ke Selo, Boyolali, saya di jalan bersalip-salipan dengan dua orang mahasiswi yang merupakan anggota dari salah satu organisasi eksternal kampus.
Saya tahu mereka adalah anggota organisasi pergerakan mahasiswa saat membaca tulisan di bagian belakang jaket yang dipakai salah satu dari mereka. Bagian belakang jaket itu bertuliskan “Muslim Negarawan” yang ditulis dengan huruf kapital.
Kemudian, saya berpikir tentang kawan-kawan di organisasi yang saya ikuti yang sering mencantumkan tulisan “Intelektual Profetik” di bagian belakang jaket. Jika dikaitkan, kedua istilah itu saling berhubungan.
Bagi mahasiswa yang kenal dengan dunia pergerakan mahasiswa, kedua istilah di atas bukanlah kalimat yang aneh dan sering didengar. Istilah “intelektual profetik” dan “muslim negarawan” memang dua istilah terpisah yang menjadi jargon dua organisasi pergerakan mahasiswa dan juga organisasi kader.
Siapa tidak kenal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Dua organisasi ini hidup di kampus, baik secara terang-terangan maupun bersembunyi di balik kegiatan kampus.  Dua istilah itu adalah jargon yang baru berkembang beberapa tahun terakhir. IMM dengan ”Intelektual Profetik” dan KAMMI dengan ”Muslim Negarawan”
Di sini saya tidak akan membicarakan dua istilah itu satu per satu secara mendalam, melainkan bagaimana dua istilah itu membentuk pribadi mahasiswa yang nantinya akan turun juga sebagai warga negara pada umumnya.
Dalam dunia pendidikan, mahasiswa adalah sekelompok pelajar eksklusif yang duduk di kursi universitas. Keberadaan mahasiswa di universitas seharusnya terhubung langsung dengan masyarakat untuk menciptakan pemikiran kritis solutif sehingga ilmu mereka tidak hanya bermanfaat bagi diri mereka, melainkan juga bagi masyarakat.
Akan tetapi, yang terjadi sekarang adalah mahasiswa disuguhi dengan berbagai iming-iming sehingga mahasiswa hanya memusatkan pikiran pada dunia kampus. Mereka dihidupi kampus dengan nyaman dan dituntut untuk memiliki nilai tinggi dan cepat lulus sehingga kadang sebagian mahasiswa menjadi pribadi yang apatis.
Selain itu, tentunya mahasiswa dihadapkan pada persaingan mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Di sinilah terjadi kesalahan yang dilakukan kebanyakan kampus sekarang. Tidak jarang kampus hanya jadi pencetak pekerja profesional bukan pencipta inovasi.
Terlepas dari dunia kampus dan kembali pada dua istilah di atas, serta mengesampingkan bagaimana persaingan antara dua organisasi pergerakan mahasiswa, IMM dan KAMMI, intelektual profetik dimaknai sebagai cendekiawan yang mampu memberikan contoh dan atau inovator serta memberikan teladan berdasarkan sifat-sifat kenabian.
Dengan berdasarkan pada sifat-sifat kenabian yang tentunya memiliki pemahaman yang mendalam ihwal agama, seorang cendekiawan akan selalu memperhatikan norma-norma yang berlaku dalam agama maupun masyarakat.
Bila ia menjadi pemimpin, ia akan disegani rakyat maupun pesaing. Ia akan mampu menjadi pengayom siapa pun. Ini tidak hanya berlaku pada pemimpin dalam ranah politik, namun juga pada ranah masyarakat yang lebih luas.
Konsep intelektual profetik memunculkan banyak spekulasi tentang apa yang akan terjadi nanti dengan si pelaku konsep ini. Pada konsep ini, seorang pelaku yang benar-benar memainkan perannya dalam kehidupan nyata serta dihayati tanpa pura-pura akan mampu menempatkan diri dalam berbagai aspek tanpa memandang mana  yang penting dan mana yang tidak.
Ia sadar bahwa sekecil apa pun masalah bila tidak ditangani dengan cepat akan menjadi masalah yang besar. Seperti halnya luka kecil yang dibiarkan begitu saja tanpa ada upaya penyembuhan, lama-kelamaan akan bertambah parah.
Spekulasi terkuat adalah ia menjadi seorang cendekiwan dan pribadi seperti dua sisi mata uang yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Dua sisi mata uang bukan berarti ia memiliki perbedaan yang tidak bisa disamakan, namun perbedaan itu dijadikan sebagai unsur pelengkap dan berfungsi ganda.
Dengan kata lain ia menjadi pribadi yang fleksibel sehingga mampu hidup dalam dua wadah atau lebih yang berbeda di masyarakat. Spekulasi lain, dengan pemahaman yang mendalam perihal agama, seseorang yang mampu mengaplikasikan konsep intelektual profetik dapat menjadi pemikir jalan tengah antara agama dan ilmu-ilmu modern.
Ilmu-ilmu modern ini disebut Syed Naquib Al Atas sebagai ilmu sekuler (pemisahan ilmu pengetahuan dengan agama). Terkait hal ini Fazlur Rahman mengemukakan konsep neomodernisasi, Al Atas dengan islamisasi ilmu, demikian juga dengan Wan Mohd. Nor Wan Daud.
Serta masih banyak lagi penggagas pemikiran Islam yang mencoba menyatukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan berdasarkan Alquran dan hadis di abad XX lalu. Juga ada Kuntowijoyo yang terkenal dengan konsep pengilmuan Islam.
Di balik konsep-konsep yang dicetuskan oleh para cendekiawan itu tidak terlepas dari keberadaan masyarakat Islam pada zamannya. Abad XX bisa disebut sebagai awal kesadaran kembali para cendekiawan muslim terhadap dominasi Barat di negara Islam (negara berpenduduk mayoritas muslim).
Negara Islam terjebak dalam dualisme ilmu, yaitu ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu sekuler. Menurut Haidar Baqir dan Zainal Abidin dalam kata pengantar buku karya Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut Al Qur’an, akibat dualisme ini menyebabkan pengabaian salah satu ilmu.
Spekulasi lainnya, seorang intelektual profetik bisa menjadi politikus. Menurut M. Dawam Rahardjo dalam buku karya Denny J.A., Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era 80-an¸ peranan profetik generasi muda adalah bagaimana menciptakan sebuah birokrasi yang lebih human dan berorientasi kepada rakyat kecil. Ungkapan Dawan Rahardjo secara spesifik memang tidak menyebutkan peran pemahaman agama dalam menciptakan generasi yang humanis.
Akan tetapi, seseorang yang memiliki pemahaman agama yang mendalam pasti tidak diragukan lagi akhlak yang dibentuk pengetahuannya. Sebab, dalam agama selalu mengajarkan umatnya untuk bersikap baik kepada semua makhluk.
Dari sinilah muncul istilah muslim negarawan. Yaitu seorang muslim yang tampil dalam dunia politik dengan tidak meninggalkan ajaran agama sebagai pijakan dalam mengambil setiap keputusan.
Ketika membicarakan muslim negarawan maka teringat pada tokoh yang pernah menjadi menteri penerangan saat Indonesia menerapkan sistem parlementer. Dia adalah pemimpin Partai Masyumi, Mohammad Natsir.
Natsir adalah sosok menteri yang selalu berpegang teguh pada ajaran Islam ketika menjalankan tugasnya. Bahkan, selepas menjadi pejabat negara ia tetap menjadi pribadi yang agamis, sederhana, dan bersahaja. Ia adalah seorang ulama yang cakap dalam bidang politik.
Pemikiran-pemikiran Natsir terkenal dan sangat berpengaruh bagi pergerakan Islam di Indonesia dan negara-negara semenanjung Melayu seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Di Malaysia, pemikiran-pemikiran Natsir memengaruhi arah gerak Partai Islam se-Malaysia (PAS), bahkan dikaji dalam pertemuan-pertemuan.  Salah satu tokoh PAS yang terkenal dan terpengaruh pemikiran Natsir adalah Anwar Ibrahim.
Berangkat dari konsep intelektual profetik dan muslim negarawan, mari berkaca pada kandidat-kandidat calon pemimpin kita yang dipilih pada 9 April lalu. Adakah kandidat yang mampu meneladani sikap Natsir dalam menjalankan tugas di parlemen nanti?
Adakah kandidat yang sikap hidupnya sederhana dan selalu berpijak pada ajaran agama? Serta, pertanyaan utama, adakah kandidat dari kalangan terdidik yang bisa menerapkan kedua konsep itu? Bila ada, akan sangat pantas sekali memimpin negara ini yang ini bisa dikatakan mulai kehilangan akal sehat.
Seorang intelektual yang cerdas dan pemahaman agamanya mendalam akan sangat terbuka pikirannya terhadap budaya baru. Ia akan memilah mana yang baik dan mana yang buruk untuk diterapkan. Ia juga paham bagaimana konsep nasionalisme dan konsep agama.
Kembali pada ranah mahasiswa, mendekati pemilihan umum (pemilu) sering terjadi politisasi kampus, seperti yang terjadi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Universitas Negeri Semarang (Unnes). Di Facebook tersebar foto beberapa mahasiswi yang masing-masing membawa huruf membentuk nama sebuah partai politik dengan latar belakang Masjid Kampus UGM.
Sedangkan di Unnes, para petinggi organisasi mahasiswa berkampanye di dalam kampus. Terkait hal itu saya teringat status akun Facebook milik Ilham Akbar Darmawan, teman seorganisasi saya dari Medan. Ilham menulis: Mahasiswa, tugasmu hanya memberikan pencerahan dan pendidikan politik kepada masyarakat agar ikut berpartisipasi, bukan mengajak untuk memilih salah satu dari nomor-nomor yang ada.
Jadi, menurut saya, silakan jika mahasiswa mau kembali berideologi seperti sebelum ada depolitisasi kampus saat Orde Baru. Akan tetapi, jangan sampai ideologi kepartaian ditempelkan di kampus. Serta, jangan jadikan kampus sebagai arena untuk berkampanye guna memenangkan salah satu partai politik. Jadilah generasi profetik.