Sumber: https://share.google/IJYUQqg7ShYo1oT72
Pernahkah kita membayangkan bahwa punahnya peradaban manusia bukan disebabkan oleh perang nuklir, asteroid raksasa, atau invasi alien, melainkan oleh makhluk mikroskopis yang bahkan tidak dapat dilihat oleh mata manusia?
Gagasan tersebut yang menjadi premis utama dalam film Project Hail Mary, sebuah film fiksi ilmiah yang diadaptasi dari novel karya Andy Weir. Film ini menceritakan tentang Ryland Grace, seorang guru sains yang terbangun sendirian di luar angkasa tanpa ingatan lengkap tentang siapa dirinya dan misi besar yang sedang ia jalankan. Seiring berjalannya cerita, ia menyadari bahwa bumi berada di ambang kehancuran dan hanya dirinya yang memiliki kesempatan untuk menyelamatkan umat manusia.
Penyebab fenomena tersebut bukanlah kerusakan pada Matahari, melainkan keberadaan organisme mikroskopis bernama Astrophage. Dalam cerita, Astrophage digambarkan sebagai organisme bersel tunggal yang memiliki kemampuan luar biasa untuk menyerap, menyimpan, dan memindahkan energi dalam jumlah yang sangat besar. Kemampuan ini menjadikannya sumber energi yang hampir sempurna, tetapi sekaligus ancaman bagi kehidupan di bumi.
Astrophage berkembang biak dengan memanfaatkan energi yang berasal dari Matahari. Semakin banyak populasinya, semakin banyak pula energi Matahari yang terserap. Akibatnya, jumlah energi yang mencapai bumi terus berkurang. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, suhu bumi akan menurun, produksi pangan terganggu, dan pada akhirnya peradaban manusia terancam runtuh.
Sumber: https://share.google/syqg0cqybdIYe38c8Keberadaan Astrophage pertama kali diketahui melalui fenomena yang disebut Petrova Line. Dalam film, para astronom menemukan garis cahaya inframerah misterius yang tampak menghubungkan Matahari dengan Venus. Setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, garis tersebut ternyata merupakan jejak energi yang ditinggalkan Astrophage saat bermigrasi dengan mengubah energi panas matahari menjadi massa tubuh. Astrophage bergerak dengan mekanisme light propulsion, dimana mereka menembakkan energi inframerah yang tersimpan di dalam tubuhnya seperti laser mikro untuk "meluncur" di luar angkasa dengan kecepatan sangat tinggi.
Secara sederhana, Petrova Line dapat dipahami sebagai "bekas jalur perjalanan" Astrophage. Fenomena inilah yang menjadi petunjuk awal bahwa berkurangnya energi Matahari bukanlah proses alam biasa, melainkan akibat aktivitas organisme yang sebelumnya tidak pernah diketahui manusia.
Meskipun Astrophage merupakan organisme fiksi, pertanyaan yang muncul justru sangat menarik: bisakah makhluk mikroskopis benar-benar memengaruhi kehidupan di bumi? Jawabannya adalah ya.
Dalam kehidupan nyata, mikroorganisme telah berkali-kali mengubah jalannya sejarah manusia. Pandemi COVID-19 menjadi contoh yang paling dekat dengan generasi saat ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa pandemi tersebut memengaruhi hampir seluruh negara di dunia dan menyebabkan jutaan kematian. Jauh sebelum itu, wabah Black Death yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis diperkirakan menewaskan puluhan juta orang di Eropa pada abad ke-14. Dari sini kita dapat melihat bahwa ukuran ancaman tidak selalu ditentukan oleh ukurannya secara fisik. Sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia pun dapat mengubah arah sejarah dunia.
Namun Project Hail Mary mengajak kita berpikir lebih jauh. Bukan hanya tentang bagaimana mikroorganisme memengaruhi manusia, tetapi juga bagaimana mereka dapat memengaruhi sistem planet secara keseluruhan.
Menurut NASA, hampir seluruh kehidupan di bumi bergantung pada energi yang berasal dari Matahari. Energi tersebut menjadi dasar bagi fotosintesis yang dilakukan tumbuhan dan fitoplankton, yang kemudian menopang rantai makanan global. Karena itu, penurunan energi Matahari dalam jumlah besar akan memberikan dampak yang sangat serius terhadap kehidupan di bumi. Film ini kemudian membangun skenario ekstrem: bagaimana jika terdapat organisme yang mampu menyerap sebagian energi Matahari sebelum energi tersebut mencapai bumi?
Secara ilmiah, kemungkinan tersebut memang sangat kecil. Hingga saat ini tidak ada organisme yang diketahui mampu menyimpan energi sebesar Astrophage. Namun konsep dasarnya memiliki hubungan dengan prinsip biologi yang nyata, yaitu kemampuan makhluk hidup untuk memperoleh, menyimpan, dan menggunakan energi untuk bertahan hidup.
Pada akhirnya, Project Hail Mary bukan sekadar film tentang luar angkasa. Film ini mengajak kita membayangkan bagaimana sebuah organisme mikroskopis dapat mengubah nasib seluruh peradaban manusia sekaligus menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan dalam memahami dan menghadapi berbagai tantangan yang belum pernah kita temui sebelumnya. Karena sering kali, masa depan manusia ditentukan bukan oleh seberapa besar ancaman yang dihadapi, melainkan oleh seberapa cepat manusia mampu memahami ancaman tersebut. Penulis: Bidang RPK IMM KBH UNS
.jpg)


0 Komentar
Silakan berkomentar, komentar yang tidak sesuai dengan postingan akan di hapus.